Senin, 30 Maret 2015

Perbedaan tafsir bil ma’tsur dan tafsir bir ra’yi berikut contoh keduanya , baik kitab atau tafsirnya.

Perbedaan tafsir bil ma’tsur dan tafsir bir ra’yi berikut contoh keduanya , baik kitab atau tafsirnya.
Ilmu tafsir Al Qur’an terus menerus mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman. Perkembangan ini merupakan suatu keharusan agar Al Qur’an dapat bermakna bagi umat Islam di segala waktu dan segala tempat. Pada perkembangan terbaru mulai diadopsilah metode-metode baru guna memenuhi tujuan tersebut. Dengan mengambil beberapa metode dalam ilmu filsafat yang digunakan untuk membaca teks Al Qur’an maka dihasilkanlah cara-cara baru dalam memaknai Al Qur’an.
Melihat sejarah awal perkembangan tafsir, muncul dua jenis penafsiran al-Qur’an secara estafet, yaitu tafsir bi al-ma’tsur atau disebut juga dengan tafsir bi al-riwayah dan tafsir bi al-ra’yi atau tafsir bi al-dirayah. Untuk meminimalisir perdebatan tentang bentuk kedua jenis tafsir ini, penulis lebih memahami keduanya  tidak sebagai sebagai sebuah metode ataupun corak tafsir melainkan jenis-jenis penafsiran yang muncul dalam sejarah awal usaha pemahaman terhadap al-Qur’an.[1] Tulisan ini akan memberikan penjelasan singkat tentang tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi.
Tafsir bir-Ra’yi
Kata al-Ra’y berarti pemikiran, pendapat dan ijtihad. Sedangkan menurut definisinya, Tafsir bir-ra’yi adalah penafsiran al-Qur’an yang didasarkan pada pendapat pribadi mufassir.[2] setelah terlebih dahulu memahami bahasa dan adat istiadat bangsa Arab. Berijtihad tanpa memperhatikan penjelasan Nabi sebagai mubayyin maupun penjelasan shahabat-shahabatnya. Sekilas hal ini jelas akan berimplikasi negatif pada penyimpulan istinbat terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang ditafsirkan karena terkesan sembrono sehingga sebagian ulama menolak tafsir ini bahkan diantaranya ada yang mengharamkan.
Tafsir bir-ra’yi muncul sebagai sebuah jenis tafsir pada periode akhir pertumbuhan tafsir bil-ma’tsur sebagai periode awal perkembangan tafsir. Pada masa ini Islam semakin maju dan berkembang, maka berkembanglah berbagai madzhab dan aliran dikalangan umat Islam. Masing-masing golongan berusaha meyakinkan umat dalam rangka mengembangkan paham mereka. Untuk maksud tersebut mereka mencari ayat-ayatal-Qur’an dan Hadits Nabi, lalu mereka tafsirkan sesuai keyakinan yang mereka anut.[3]
Meskipun telah terdapat upaya sebagian Muslim yang menunjukkan bahwa mereka telah melakukan penafsiran dengan ijtihad, khususnya pada zaman shahabat dan tabi’in sebagai tonggak munculnya ijtihad namun tidak menutup kemungkinan bahwa sejak zaman Nabi, benih-benih tafsir bir-ra’yi telah tumbuh dikalangan ummat Islam.
Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa sebenarnya tafsir bir-ra’yi tidak semata-mata didasari penalaran akal, dengan mengabaikan sumber-sumber riwayat secara mutlak.[4] akan tetapi lebih selektif terhadap riwayat tersebut. Dalam sumber lain Tafsir bir-ra’yi bukan berarti menafsirkan ayat dengan menggunakan akal seluas-luasnya, tetapi tafsir yang didasarkan pada pendapat yang mengikuti kaidah-kaidah bahasa Arab yang bersandar pada sastra jahiliah berupa syair, prosa, tradisi bangsa Arab, dan ekspresi percakapan mereka serta pada berbagai peristiwa yang terjadi pada masa Rasul menyangkut perjuangan, perlawanan, pertikaian, hijrah, dan peperangan yang beliau lakukan selain itu juga menyangkut berbagai fitnah yang pernah terjadi dan hal-hal yang terjadi saat itu, yang mengharuskan adanya hukum-hukum dan diturunkannya ayat-ayat al-Quran. Dengan demikian, tafsir bir-ra’yi adalah tafsir dengan cara memahami berbagai kalimat al-Quran melalui pemahaman yang ditunjukkan oleh berbagai informasi yang dimiliki seorang ahli tafsir seperti bahasa dan berbagai peristiwa.
Sebagian ulama menerima tafsir ini dengan beberapa syarat yang cukup ketat diantaranya : (a) menguasai bahasa Arab dan cabang-cabangnya (b) menguasai ilmu-ilmu al-Qur’an (c) berakidah yang benar (d) mengetahui prinsip-prinsip pokok agama Islam dan menguasai ilmu yang berhubungan dengan pokok bahasan ayat-ayat yang ditafsirkan.[5] Dengan syarat-syarat tersebut diharapkan tidak ada penyimpangan dalam menafsirkan al-Qur’an.
Sedikit mendialogkan pro-kontra seputar penerimaan tafsir bir-ra’yi dikalangan ulama, bahwa kedua pendapat yang bertentangan itu mungkin hanya merupakan kesalah pahaman dalam istilah ra’y. Jelas semua ulama sepakat menolak semua jenis penafsiran yang hanya menggunakan ra’y [pemikiran] saja tanpa mempertimbangkan kaidah-kaidah yang berlaku akan tetapi mereka menerima ijtihad yang didasari oleh al-Qur’an, Sunnah Nabi serta kaidah-kaidah yang berlaku. Dengan demikian dapat dipahami bahwa hadirnya tafsir bir-ra’yi justru merupakan perkembangan signifikan dalam khazanah tafsir al-Qur’an. Namun tidak mengesampingkan kelemahan yang sedikit telah disinggung diatas bahwa pada masa ini rentan terhadap penyusupan kepentingan dan politik. Contoh Tafsir bir ra’yi dalam Tafsir Jalalain:
t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ  
 Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.(QS Al Alaq 2)
 Kata ‘alaq disini diberi makna dengan bentuk jamak dari lafaz ‘alaqah yang berarti segumpal darah yang kental.
Karya-karya Kitab Tafsir bir-ra’yi :
1.    Tafsir Abdurrahman bin Kaisan al-Asam
2.    Tafsir Abu ‘Ali al-Juba’i
3.    Tafsir Abdul Jabbar
4.    Tafsir az-Zamakhsyari, al-Kasyaf ‘an Haqa’iqi Gawamidit Tanzil wa “uyanil           Aqawil fi Wujuhit Ta’wil
5.    Tafsir Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib
6.    Tafsir an-Nasafi, Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil
7.    Tafsir al-Khazin, Lubabut Ta’wil fi Ma’ani Tanzil
8.    Tafsir Abu Hayyan, al-Bahrul Muhit
9.    Tafsir al-Baidlawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil
10.                        Tafsir al-Jalalain, jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi
Tafsir bil-Ma’tsur
Tafsir bil-ma’tsur adalah penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang didasarkan dan mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang lain, Sunnah yang tertuang dalam hadits-hadits Nabi, pendapat Shahabat dan Tabi’in.[6] Namun terdapat perbedaan dalam pengkategorian pendapat tabi’in sebagai tafsir bil-ma’tsur karena ada indikasi bahwa pendapat tabi’in banyak telah terkooptasi oleh akal[7] berbeda dengan pendapat shahabat yang dimungkinkan untuk mengetahui penafsiran suatu ayat berdasarkan petunjuk Nabi. Selain itu shahabat juga menyertai Nabi pada saat turunnya sebagian ayat sehingga mereka lebih mengetahui asbab an-Nuzul sebuah ayat.
Tafsir ini merupakan salah satu jenis penafsiran yang muncul pertama kali dalam sejarah khazanah intelaktual Islam. Sedikit sekali terjadi perbedaan pendapat dalam produk-produk penafsirannya. Sebagian besar perbedaan yang ditemukan adalah pada aspek pemahaman redaksional terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Ini disebabkan relativitas kualitas intelektual shahabat dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an tersebut.[8] sehingga wajar ditemukan perbedaan. Sebagai sebuah contoh dalam Mabahits fi Ulum al-Qur’an, seorang mufassir pada masa itu mengungkapkan maksud sebuah kata dengan redaksi yang berbeda dengan redaksi mufassir yang lain dan masing-masing redaksi itu menunjuk makna yang juga berbeda namun maksud semuanya adalah sama. Seperti penafsiran terhadap kata shirat al-mustaqim, sebagian menafsirkannya sebagai al-Qur’an dan sebagian yang lain menafsirkannya dengan Islam. Kedua tafsiran ini berbeda namun senada karena Islam didasari oleh al-Qur’an hanya saja masing-masing penafsiran itu menggunakan sifat yang tidak digunakan oleh yang lain.
Secara garis besar, penafsiran pada masa ini kukuh beracuan pada aspek riwayat-riwayat yang menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an karena dianggap sebagai jalan pengetahuan yang benar dan paling aman untuk tetap terjaga dari ketergelinciran dan kesesatan dalam memahami al-Qur’an. Namun bukan berarti tidak terjadi ijtihad karena hal ini dapat dilihat dari sumber-sumber kajian tafsir yang digunakan selain al-Qur’an dan Sunnah juga menggunakan Ijtihad shahabat dalam beberapa hal yang mutlak memerlukan ijtihad. Dalam bahasa Quraish Shihab disebut sebagai keterpaksaan melakukan ijtihad karena Nabi telah wafat. Bahkan ditemukan juga riwayat Ahl Kitab Yahudi dan Nashrani[9] yang telah masuk Islam[10] dan hal inilah yang ditengarai sebagai awal kemunculan Isra’iliyyat.
Kelemahan Tafsir bil-ma’tsur
1.    Banyak ditemukan riwayat-riwayat yang disisipkan oleh orang-orang yahudi dan persi dengan tujuan merusak islam melalui informasi yang tidak dipertanggungjawabkan kebenarannya.
2.    Banyak ditemukan usaha-usaha penyusupan kepentingan yang dilakukan oleh aliran-aliran yang dianggap menyimpang seperti kaum Syi’ah.
3.    Tercampur aduknya riwayat-riwayat yang shahih dengan riwayat-riwayat hadits yang sanadnya lemah
4.    Banyak ditemukan riwayat Isra’iliyyat yang mengandung dongeng-dongeng yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.[11]
Contoh tafsir Al Qur’an dengan Al Qur’an antara lain:
4 (#qè=ä.ur (#qç/uŽõ°$#ur 4Ó®Lym tû¨üt7oKtƒ ãNä3s9 äÝøsƒø:$# âÙuö/F{$# z`ÏB ÅÝøsƒø:$# ÏŠuqóF{$# z`ÏB ̍ôfxÿø9$# (     
dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar.  (QS 2, Al Baqarah:187)
 Perkataan minal fajri adalah tafsir bagi apa yang dikehendaki dari kalimat al khaitil abyadhi.
Contoh Tafsir Al Qur’an dengan Sunnah antara lain:
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOs9ur (#þqÝ¡Î6ù=tƒ OßguZ»yJƒÎ) AOù=ÝàÎ/ y7Í´¯»s9'ré& ãNßgs9 ß`øBF{$# Nèdur tbrßtGôgB ÇÑËÈ  
 orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An’am 82)
Rasulullah s.a.w.menafsirkan dengan mengacu pada ayat :
øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã
. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".(QS Luqman 13)
Dengan itu Beliau menafsirkan makna zhalim dengan syirik.
Karya-karya Kitab Tafsir bil-ma’tsur :
1.    Tafsir Ibn Abbas
2.    Tafsir Ibn ‘Uyainah
3.    Tafsir Ibn Abi Hatim
4.    Tafsir Abu Syaikh bin Hibban
5.    Tafsir Ibn ‘Atiyyah
6.    Tafsir Abu Laits as-Samarqandi
7.    Tafsir Abu Ishaq, al-Kasyfu wa al-Bayan ‘an Tafsir al-Qur’an
8.    Tafsir Ibn Jarir at-Thabari, Jami’ul Bayan fi Tafsir al-Qur’an
9.    Tafsir Ibn Abi Syaibah
10.                        Tafsir al-Baghawi, Ma’alimu at-Tanzil
11.                        Tafsir Abil Fida’ al-Hafidz Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-’Adzim
12.                        Tafsir as-Sa’labi, al-Jawahir al-Hisan fi Tafsir al-Qur’an
13.                        Tafsir Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Duru al-Mansur fi Tafsiri bi al Ma’tsur
14.                        Tafsir as-Syaukani, Fath al-Qadir

Budi Pekerti dan Ahlak

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
       Menjaga aqidah akhlak meruakan hal yang penting bagi kita. Hal-hal yang dapat kita lakukan antara lain dengan mempelajari ilmu-ilmu yang menyangkut aqidah akhlak, hal-hal yang dapat merusak aqidah akhlak, menjauhkan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak aqidah akhlak dan mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari.
       Mengingat begitu pentingnya aqidah akhlak ini, maka sebagian sekolah mulai memasukkan aqidah akhlak ini ke dalam mata pelajaran di sekolah. Karena usia anak-anak sekolah merupakan usia yang labil, di mana perlu ditanamkan sejak dini agar mereka mempunyai aqidah yang baik dan akhlak yang terpuji.
Akhlak terpuji yaitu tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah. Akhlak yang terpuji dilahirkan dari sifat-sifat yang terpuji pula.
Ada berbagai macam akhlak terpuji, baik terpuji kepada Allah, kepada alam, kepada sesama manusia, dan kepada diri sendiri.
Dalam makalah ini akan dibahas akhlak-akhlak terpuji kepada diri sendiri. Adapun sifat-sifat yang terpuji kepada diri sendiri diantaranya:
1.    Tawakkal
2.    Ikhtiar
3.    Sabar
4.    Syukur
5.    Qana’ah

B.    Kompetensi Dasar
1.    Menjelaskan pengertian tawakkal, ikhtiar, sabar, syukur, dan qana’ah.
2.    Mengidentifikasi bentuk perilaku terpuji pada diri sendiri.
3.    Menunjukkan niai-nilai positif yang terkandung dalam perilaku terpuji pada diri sendiri.
4.    Menampilkan perilaku tawakkal, ikhtiar, sabar, syukur, dan qana’ah.

C.    Indikator
1.    Peserta didik mampu menjelaskan pengertian tawakkal, ikhtiar, sabar, syukur, dan qana’ah.
2.    Peserta didik mampu mengidentifikasi bentuk perilaku terpuji pada diri sendiri.
3.    Peserta didik mampu menunjukkan niai-nilai positif yang terkandung dalam perilaku terpuji pada diri sendiri.
4.    Peserta didik mampu menampilkan perilaku tawakkal, ikhtiar, sabar, syukur, dan qana’ah.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tawakkal
1.    Pengertian Tawakkal
       Kata tawakkal berasal dari bahasa Arab yang artinya pasrah dan menyaerah. Secara istilah, tawakkal berarti sikap pasrah dan menyerah terhadap hasil suatu pekerjaan atau usaha dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT .
       Tawakkal dapat diberi pengertian berserah diri kepada Allah SWT setelah semua proses pekerjaan atau amalan lain sudah dilakkan secara optimal.  Tawakkal harus dilakukan setelah ada usaha dan kerja keras dengan menerahkan segala kemampuan yang dimiliki. Akan tetapi, ketika seseorang belum berusaha  secara optimal untuk mencapai suatu angan atau cita-citanya, kemudian ia pasrah atau berserah diri, maka orang tersebut belum dapat dikatakan tawakkal.
       Serahkan semua urusan hanya kepada Allah SWT, jangan menggantungkan sesuatu kepada selain Allah. Sebab, hanya Allah-lah yang mempunyai kekuasaan atas segala sesuatu. Segaloa usaha dan kerja keras tidak akan berarti apa-apa, jika Allah tidak menghendaki keberhasilan ats usaha itu. Manusia boleh berharap dan harus terus berusaha dengan seganap daya upaya, namun jangan lupa bahwa manusia tidak dapat menentukan suatau usaha itu berhasil atau gagal.
       Dengan demikain, tawakkal dilakukan sesuai dengan aturan yang benar, sehinga tidak ada penyimpangan akidah dan keyakinan dari perbuatan tawakkal yang salah.


2.    Perintah Bertawakal
       Tawakal kepada Allah termasuk perkara yang diwajibkan dalam Islam. Allah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 159,
                               •      

yang artinya “ Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah membut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu , kaena itu maafkanlah mereka dan bermusawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah, Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal”.
Dan dalam surat al-Maidah ayat 23
         

yang artinya “…dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman.

3.    Bentuk-bentuk Bertawakal
       Sebagai muslim kita harus mengenali bentuk-bentuk perilaku tawakkal, agar kelak dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari, di antaranya sebagai berikut :
a.    Melakukan sesuatu atas dasar niat ibadah kepada Allah SWT.
b.    Tidak menggantungkan keberhasilan suatu usaha kepada selain Allah SWT.
c.    Bersikap pasrah dan siap menerima apa pun.
d.    Tidak memaksakan kehendak atau keinginan kepada siapa pun dan pihan mana pun.
e.    Bersikap tegar dan tenang, baik dalam menerima keberhasilan maupun kegagalan.
Contoh :
1)    Rajin belajar dan tawakal dengan berdoa kepada Allah akan menghasilkan kemudahan dalam mengerjakan soal.
2)    Ayah dan Ibu Ahmad adalah petani kecil. Ia sangat mendambakan agar Ahmad kelak menjadi anak saleh yang cerdas. Sebagai muslim dan muslimat yang taat beragama, setiap hari mereka selalu berdoa dan bertawakal kepada Allah semoga keluarganya hidup tentram di bawah ridho Allah.

4.    Dampak Positif Tawakal
a.    Memperoleh kepuasan batin karena keberhasilan usahanya mendapat ridho Allah.
b.    Memperoleh ketenangan jiwa karena dekat dengan Allah yang mengatur segala-galanya. Mendapatkan keteguhan hati.

5.    Membiasakan Diri Berperilaku Tawakal
       Manusia harus sadar dirinya lemah, terbukti sering mengalami kegagalan. Keberhasilan usaha manusia ada pada kuasa dan kehendak Allah semata-mata. Oleh sebab itu, manusia harus mau bertawakal kepada Allah setelah melakukan usaha secara sungguh-sungguh. Orang yang tawakal berarti menunggu keberhasilan usahanya. Oleh sebab itu, pada waktu tawakal hendaknya memperbanyak doa kepada Allah agar usahanya berhasil baik.

B.    Ikhtiar
1.    Pengertian Ikhtiar
       Kata ikhtiar berasal dari bahasa Arab (ikhtara-yakhtaru-ikhtiyaaran) yang berarti memilih. Ikhtiar diartikan berusaha karena pada hakikatnya orang yang berusaha berarti memilih.
       Adapun menurut istilah, berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk meraih suatu harapan dan keingina yang dicita-citakan, ikhtiyar juga juga dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh yang dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

2.    Perintah untuk Berikhtiar
Dalil-dalil yang mewajibkan kita berikhtiar, antara lain :
a.    Surat al-Jumu’ah ayat 10
                 

Yang artinya :”Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”.
b.    H.R. al-Bukhori nomor 1378 dari Zubair bin Awwam r.a
Yang artinya : “Sungguh, jika sekiranya salah seorang diantara kamu membawa talinya(untuk mencari kayu bakar), kemudian ia kembali dengan membawa seikat kayu di atas punggungnya, lalu ia jual sehingga Allah mencukupi kebutuhannya(dengan hasil itu) adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia, baik mereka(yang diminta) member atau menolaknya.

3.    Bentuk-bentuk Ikhtiar
       Sebagai muslim kita harus mengenali bentuk-bentuk perilaku ikhtiar, agar kelak dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari, di antaranya sebagai berikut :
a.    Mau bekerja keras dalam mencapai suatu harapan dan cita-cita.
b.    Selalu bersemangat dalam menghadapi kehidupan.
c.    Tidak mudah menyerah dan putus asa.
d.    Disiplin dan penuh tanggung jawab.
e.    Giat bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.
f.    Rajin berlatih dan belajar agar bisa meraih apa yang diinginkannya.

4.    Dampak Positif Ikhtiar
       Banyak nilai positif yang terkandung dalam perilaku ikhtiar, di antaranya sebagai berikut :
a.    Terhindar dari sikap malas.
b.    Dapat mengambil hikmah dari setiap usaha yang dilakukannya.
c.    Memberikan contoh tauladan bagi orang lain.
d.    Mendapat kasih sayang dan ampuna dari Allah SWT.
e.    Merasa batinnya puas karena dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.
f.    Terhormat dalam pandangan Allah dan sesame manusia karena sikapnya.
g.    Dapat berlaku hemat dalam membelanjakan hartanya.

5.    Membiasakan Diri Berikhtiar
       Sikap perilaku ikhtiar harus dimiliki oleh setiap muslim agar mampu menghadapi semua godaan dan tantangan dengan kerja keras dan ikhtiar. Untuk itu hendaklah perhatikan terlebih dahulu beberapa hal berikut :
a.    Kuatkan iman kepada Allah SWT.
b.    Hindari sikap pemalas.
c.    Jangan mudah menyerah dan putus asa.
d.    Berdo’a kepada Allah agar diberi kekuatan untuk selalu berikhtiar.
e.    Giat dan bersemangat dalam melakukan suatu usaha.
f.    Tekun dalam melaksanakan tugas, Pandai-pandai memanfaatkan waktu.
g.    Tidak mudah putus asa, selalu berusaha memajukan usahanya.


C.    Sabar
1.    Pengertian Sabar
       Menurut bahasa, sabar artinya tabah,tahan uji.
       Sabar berarti tahan menderita sesuatu, tidak lekas marah, tidak lekas patah hati, dan tidak lekas putus asa.
       Adapun menurut istilah, sabar ialah kondisi ental seseorang yang mampu mengendalikan hawa nafsu yang ada dalam dirinya. hawa nafsu di sini mengandung arti sangat luas, misalnya amarah, ambisi, serakah, tergesa-gesa, dan sebagainya. Oleh karena itu, orang yang sabar adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Sabar merupakan salah satu akhlak terpuji dan kunci untuk mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan hidup.
             •        (QS Al Luqman 17)
       Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, adalah seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala.
      Namun kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian "nrimo", ketidak mampuan dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan memenuhi panggilan ilahi.
       Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan agar lebih baik dan baik lagi. Bahkan seseorang dikatakan dapat diakatakan tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Sabar dalam ibadah diimplementasikan dalam bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan shalat secara berjamaah. Sehingga sabar tidak tepat jika hanya diartikan dengan sebuah sifat pasif, namun ia memiliki nilai keseimbangan antara sifat aktif dengan sifat pasif.
2.    Macam-macam Sabar
Iman al-Gazali membagi kesabaran menjadi tiga macam, yaitu :
a.    Sabar dalam ketaatan, yaitu melaksanakan tugas atau kewajiban dengan ikhlas.
b.    Sabar dalam menghadapi musibah, yaitu tabah atau kuat hati saat menerima cobaan hidup.
c.    Sabar dari maksiat, yaitu rela meninggalkan perbuatan maksiat dan tidak menyesal atau iri apabila melihat orang lain dapat bersenang-senang dalam maksiat.

3.    Perintah untuk Bersabar
a.    Sabar dalam Ketaatan, dalam firman Allah, surat Ali-Imran ayat 200
b.    Sabar dalam Musibah, dalam Firman Allah surat al-Baqarah ayat 155-156
c.    Sabar dari Maksiat, dalam firman Allah surat an-Nahl ayat 126-127
d.    Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)

4.    Bentuk-bentuk atau Contoh Sikap Sabar
       Sebagai muslim kita harus mengenali bentuk-bentuk perilaku sabar, agar kelak dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari, di antaranya sebagai berikut :
a.    Bersabar dalam hal belajar untuk meraih cita-cita dan harapan
b.    Sabar ketika diejek oleh teman-teman, karena kesabaran akan membawa hasil yang positif.
c.    Tidak mudah emosi atau marah.
d.    Tidak tergesa-gesa.
e.    Menerima segala sesuatu dengan kepala dingin.
f.    Tidak mudah menyalahkan orang lain.
g.    Selalu berserah diri kepada Allah SWT.

5.    Dampak Positif Sikap Sabar
       Banyak nilai positif yang terkandung dalam perilaku sabar, di antaranya sebagai berikut :
a.    Terhindar dari bencana dan mala petaka yang disebabmkan oleh nafsu.
b.    Melatih diri mengendalikan hawa nafsu.
c.    Disayang oleh Allah.
d.    Memiliki emosi yang stabil
e.    Memiliki harapan akan masuk ke surge sesuai janji Allah da;am surat al-Baqarah ayat 155
f.    Berhasil mengembalikan persaudaraan yang hamper rusak.

6.    Membiasakan Diri Bersikap Sabar
a.    Selalu ingat bahwa marah tidak dapat menyelesaikan masalah
b.    Memperbanyak bergaul dengan teman-teman yang baik, berakhlak mulia
c.    Membatasi diri dan bersikap-hati-hati dalam bergaul dengan teman yang berwatak keras dan kasar.
d.    Hindari bergaul dengan orang-orang yang berperilaku tidak menyenangkan.
e.    Hadapi segala sesuatu dengan tenang.
f.    Hindari sifat tergesa-gesa.


D.    Syukur
1.    Pengertian Syukur
        Syukur berasal dari bahasa Arab yang berarti berterima kasih. Menurut istilah, bersyukur adalah berterima kasih kepada Allah atas karunia yang dianugerahkan kepada dirinya.
       Apabila direnungkan secara mendalam, ternyata memang banyak nikmat Allah yang telah kita terima dan gunakan dalam hidup ini. Demikian banyaknya sehingga kita tidak mampu menghitungnya.
       Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan kehendak pemberinya. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan dan melupakan nikmat.
       Pada dasarnya, semua bentuk syukur ditujukan kepada Allah. Namun, bukan berarti kita tidak boleh bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara nikmat Allah. Ini bisa dipahami dari perintah Alah untuk bersyukur kepada orang tua yang telah berjasa menjadi perantara kehadiran kita di dunia.
       Perintah bersyukur kepada orang tua sebagai isyarat bersyukur kepada mereka yang berjasa dan menjadi perantara nikmat Alloh. Orang yang tidak mampu bersyukur kepada sesama sebagai tanda ia tidak mampu pula bersyukur kepada Alloh swt.
       Manfaat syukur akan menguntungkan pelakunya. Allah tidak akan memperoleh keuntungan dengan syukur hamba-Nya dan tidak akan rugi atau berkurang keagungan-Nya apabila hamba-Nya kufur. 

2.    Perintah Bersyukur
Mensyukuri nikmat Allah adalah kewajiban setiap muslim dan muslimat. Dalil-dalil yang mewajibkan bersyukur, diantaranya :
a.    Surat al-Baqarah ayat 152
b.    Surat an-Nahl ayat 114
c.    Surat al-Ankabut ayat 17
d.    Allah berfirman, ''Dan siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.'' (QS 27: 40)
e.    Nabi bersabda, ''Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka ia tidak  mensyukuri Alloh.'' (HR Tirmidzi). 
f.    Firman Allah SWT, ''Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kamu kembali.'' (QS 31: 14).
g.    Allah SWT berfirman, ''Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'.'' (QS 14: 7).
h.    Allah berfirman, ''Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS 16: 18).
i.    ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka pasti azab-Ku sangat berat."(QS.ibrahim : 14)

3.    Bentuk-bentuk Bersyukur
       Sebagai muslim kita harus mengenali bentuk-bentuk perilaku syukur, agar kelak dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari, di antaranya sebagai berikut :
a.    Selalu mengucapkan “al hamdulillah” atau terima kasihsetiap kali menerima menukmatan.
b.    Menggunakan apa yang diberikan sesuai dengan kehendak pamberinya.
c.    Menjaga dan merawat dengan baik apa yang telah diberikan.
d.    Menyisihkan sebagian harta kita untuk diserahkan ke baitul mal
e.    Menyisihkan waktunya untuk membantu orang yang belum bisa membaca Al-Quran.

4.    Nilai Positif Bersyukur
       Banyak nilai positif yang terkandung dalam perilaku syukur, di antaranya sebagai berikut :
a.    Memperoleh kepuasan batin karena dapat menaati salah satu kewajiban hamba terhadap Allah SWT.
b.    Terhindar dari sifat tamak
c.    Terhindar dari murka Allah SWT.
d.    Mendapat jaminan tambahan nikmat Allah

5.    Membiasakan Diri Bersyukur
a.    Menerima pemberian orang tua dengan senang hati
b.    Memanfaatkan uang untuk membeli hal-hal yang bermanfaat
c.    Tidak boros dalam menggunakan uang

E.    Qana’ah
1.    Pengertian Qonaah
       Kata qonaah berasal dari bahasa Arab yang berarti rela, suka menerima yang dibagikan kepadanya. Adapun secara istilah, qonaah adalah sikap menerima semua yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada kita. Dapat pula dikatakan bahwa qana’ah ialah sikap perilaku menerima dan menggunakan suatu pemberian Allah sesuai dengan ketentuan Allah dan kebutuhan kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kekayaan (yang haqiqi) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang haqiqi) adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kekayaan jiwa dalam hadits tersebut adalah Qona’ah. Dalam bahasa jawa sering diartikan sebagai sikap “nerimo”. Bersyukur terhadap apa-apa yang telah diberikan oleh Allah. Terkadang yang diterima oleh manusia menurut ukuran materi jumlahnya sedikit, tetapi sebenarnya nikmat yang diberikan oleh Allah tidak bisa terhitung jumlahnya.
Di kesempatan yang lain rasulullah juga bersabda “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim). Islam memberikan jaminan rezeki bagi penganutnya selama mereka taat terhadap perintah-perintah Allah disamping mereka harus Qona’ah terhadap apa-apa yang diberikan Allah untuknya.
Merasa puas terhadap apa yang didapatkan akan menjadikan hati menjadi Qona’ah. Dan orang-orang yang bersikap Qona’ah akan mudah untuk bersyukur pada Allah. Yang kemudian akan diberikan limpahan rahmat lebih banyak lagi karena kesyukurannya tersebut.
Sebenarnya orang fakir itu adalah orang yang tidak pernah mempunyai sifat Qona’ah dalam dirinya. Karena mereka merasa kekurangan terus menerus dalam hidupnya. Tetapi lain halnya dengan hakekat orang yang kaya, Ia selalu merasa puas terhadap apa yang didapatnya sehingga ia bersyukur.Setan selalu menggoda manusia untuk tidak Qona’ah terhadap dunia. Akibatnya manusia selalu merasa kurang terhadap apa yang diberikan oleh Allah. Memang sifat Qona’ah itu tidak jatuh dari langit dengan sendirinya kepada manusia, tetapi harus diasah dan dilatih. Dan hanya dengan sikap sabar bisa menumbuhkan sifat Qona’ah. Sabar untuk selalu berusaha merasa puas terhadap apa yang didapatnya.
Dengan sifat Qona’ah ini, orang akan selalu merasa bersyukur, sehingga mudah baginya untuk berbagi kepada orang lain dan dapat menghilangkan sifat serakah dalam hati. Ni’mat yang digenggamnya tidak ia nikmati sendiri tetapi ia bagikan kepada orang-orang disekitarnya yang membutuhkan. Artinya qana’ah tidak hanya pada waktu rizki yang kita terima sedikit, tetapi pada waktu rizki melimpah pun kita harus tetap qana’ah.

2.    Perintah untuk Bersifat Qonaah
Dalil tentang wajibnya memiliki sifat qonaah, antara lain :
       Dalam surat an-Nisa’ ayat 32 , dimana ayat ini berisi tentang larangan bersikap iri terhadap karunia yang diterima orang lain, sedangkan sikap iri berarti tidak suka melihat orang lain mendapatkan kesenangan

3.    Bentuk-bentuk Qonaah
a.    Selalu ikhlas menerima kenyataan hidup.
b.    Tidak banyak berangan-angan.
c.    Tidak bersikap iri ter hadap kenikmatan yang diterima orang lain.
1)    Sudah cukup merasa senang walaupun ke sekolah dengan berjalan kaki.
2)    Merasa cukup dengan kondisi yang pas-pasan,asalkan mampu menyekolahkan anaknya.

4.    Nilai Positif Qonaah
a.    Terhindar dari sifat tamak
b.    Dapat merasakan ketenteraman hidup karena merasa cukup atas karunia Allah yang dianugerahkan kepada dirinya
c.    Mendapat jaminan tambahan nikmat dari Allah dan terhindar dari ancaman siksa yang berat
5.    Membiasakan Diri Bersifat Qonaah
a.    Sering memperhatikan orang-orang yang lebih miskin daripada kita
b.    Tidak sering memerhatikan orang yang lebih kaya agar kita tidak merasa kurang
c.    Membiasakan diri berlaku hemat.
d.    Biasakan bersikap ikhlas.
e.    Hindari kebiasaan berangan-angan.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
       Akhlak terpuji yaitu tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah. Akhlak yang terpuji dilahirkan dari sifat-sifat yang terpuji pula.
       Ada berbagai macam akhlak terpuji, baik terpuji kepada Allah, kepada alam, kepada sesama manusia, dan kepada diri sendiri. Di antaranya yaitu tawakkal, ikhtiar, sabar, syukur, dan qana’ah.
       Tawakkal berarti sikap pasrah dan menyerah terhadap hasil suatu pekerjaan atau usaha dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Ikhtiar diartikan berusaha karena pada hakikatnya orang yang berusaha berarti memilih. Sabar berarti tahan menderita sesuatu, tidak lekas marah, tidak lekas patah hati, dan tidak lekas putus asa. Bersyukur adalah berterima kasih kepada Allah atas karunia yang dianugerahkan kepada dirinya. Qonaah adalah sikap menerima semua yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada kita.
       Menerapkan perilaku-perilaku di atas bukan berarti kita menyerah begitu saja, tapi tetap berusaha sekuat tenaga. Karena segala sesuatu hanya di tangan Allah SWT, manusia hanya bisa berusaha.    

Lowongan kerja Astra Daihatsu motor

PT. ASTRA DAIHATSU MOTOR Jakarta : Jl. Gaya Motor 1 no.6 Sunter II Tanjung Priuk Jakarta 14330 Karawang : Jl. Maligi Raya VI Lot A-5/M-6 Kawasan Industri KIIC Karawang 41361 ( Casing Plant & Engine Plant Karawang ) Bekasi : Jl. Kalimantan Blok E1-2 Kawasan Industri MM 2100 Cikarang Barat 17520 PT Astra Daihatsu Motor kembali membuka Lowongan Kerja 2015 dengan kualifikasi sebagai berikut : - Pria Dan Wanita - Usia Maksimal 24 Tahun - Pendidikan Minimal SMA / SMK - Sederajat - Tinggi Dan Berat Badan Ideal (Tidak Kurang Dari 150Cm) - Sehat Jasmani Dan Rohani - Tidak Bertato Dan Bertindik (Pria Tidak Boleh Bertindik) Fasilitas : - Gaji pokok UMR - Ada Makan Dan Jemputan Karyawan - Dapat Tunjangan (Jabatan, Kesehatan, Hari Tua, Hari Raya) - Premi Kehadiran - Dapat Seragam - Kontrak Kerja Panjang Berkas Lamaran : 1. Foto 4x6, 2 Lembar Berwarna 2. Fc KTP (Boleh KTP Daerah) 3. Surat Sehat Dari Dokter Terbaru 4. Surat Kuning Dari Dinakertrans (Jika Ada) 5. Fc Ijazah Terakhir 6. Surat Lamaran Kerja WAJIB Tulis Tangan 7. Daftar Riwayat Hidup 8. Surat Pengalaman Kerja (Jika Ada) 9. SKCK * Bagi berkas lamaran yang kurang lengkap bisa menyusul. Cara melamar / Guna mendapatkan jadwal penyeleksiannya: Kirim biodata diri anda Via Sms ke Nomer : 0857 1587 4532 (Div recruitment) Dengan Format : Trovit / Nama / Usia / Pend Terakhir / Alamat tinggal sekarang. NB : Kami Hanya Proses Yang Memenuhi Kriteria Diatas !!! Wawancara dan Test di Laksanakan di Kantor penyeleksian. RESMI DISNAKER.

Persyaratan

- Pria Dan Wanita - Usia Maksimal 24 Tahun - Pendidikan Minimal SMA / SMK - Sederajat - Tinggi Dan Berat Badan Ideal (Tidak Kurang Dari 150Cm) - Sehat Jasmani Dan Rohani - Tidak Bertato Dan Bertindik (Pria Tidak Boleh Bertindik)

Lamar lowongan kerja ini